Tidak Ikut Berisik, Tidak Asik?


Tidak Ikut Berisik, Maka Dianggap Tidak Asik

Oleh: Siti Hajar

Ada masa ketika aku mulai merasa asing di tengah keramaian. Bukan karena tidak ada orang, tapi karena aku tidak lagi bisa menjadi seperti yang mereka harapkan. Di dunia yang sering menganggap kebisingan sebagai tanda keakraban, aku tidak selalu mampu ikut berisik. Dan entah sejak kapan, itu membuatku terlihat tidak asik.

Aku lebih sering memilih diam. Mendengar. Sesekali tersenyum. Bukan karena aku selalu setuju, tapi karena tidak semua hal perlu ditanggapi. Namun diamku ternyata tidak pernah benar-benar dimaknai sebagai diam. Ia dianggap persetujuan. Senyumku dijadikan tanda bahwa aku berada di pihak yang sama. Padahal di dalam, ada sesuatu yang terus menolak—sesuatu yang tidak pernah benar-benar bisa aku abaikan.

Nurani itu tidak pernah diam.

Ia mungkin tidak bersuara keras di luar, tapi di dalam, ia menjerit dengan cara yang hanya aku yang mengerti. Ada hal-hal yang terasa tidak sejalan, ada percakapan yang terasa tidak lagi nyaman, ada kebersamaan yang perlahan kehilangan makna.

Dan aku mulai lelah.

Lelah harus terlihat baik-baik saja. Lelah harus menyesuaikan diri agar tetap diterima. Lelah harus ikut tertawa pada hal-hal yang sebenarnya tidak lagi membuatku tenang.

Sampai akhirnya, aku sampai pada satu titik yang sederhana, tapi tidak mudah: kini saatnya aku berpegang pada apa yang kuyakini benar.

Perlahan, aku belajar untuk tidak lagi sekadar diam demi menjaga suasana. Tidak lagi tersenyum hanya agar tetap dianggap bagian dari mereka. Bukan berarti aku menjadi keras atau merasa paling benar. Aku hanya ingin jujur pada diriku sendiri.

Dan di situlah aku mulai memahami sesuatu yang dulu terasa menakutkan—bahwa tidak semua relasi harus dipertahankan dengan cara yang sama.

Ada yang perlu dijaga, iya. Tapi ada juga yang harus dilepaskan, meskipun pernah terasa begitu dekat. Tidak semua lingkaran harus kita masuki, dan tidak semua tempat adalah tempat kita bertumbuh.

Tidak mengapa… jika suatu hari aku tidak lagi berada di dalamnya.

Karena bisa jadi, itu bukan kehilangan. Itu hanya cara hidup mengembalikanku pada ruang yang lebih jujur—pada versi diriku yang tidak perlu berpura-pura.

Dan jika pada akhirnya ada yang benar-benar menjauh, aku mulai belajar untuk tidak lagi panik. Aku tetap aman. Aku tetap bisa menjadi diriku sendiri.

Yang harus aku jaga bukanlah siapa yang bertahan di sekitarku, tapi apakah aku masih utuh di dalam diriku sendiri.

Sebab ada satu hal yang kini aku pahami dengan lebih tenang: selamatkan jiwa dan batinmu.

Jangan biarkan dirimu larut terlalu jauh dalam sesuatu yang kamu sendiri tidak yakini. Karena ada keadaan-keadaan yang, jika terlalu lama kita tinggali, akan membuat kita lupa diri dan tujuan hidup.

Kamu jika menghadapi kondisi seperti yang aku alami. Boleh banget kalau kamu meniru keputusanku. Iya tentu saja versi kamu. So guys, semoga kota terbebas dari mental illness dengan relasi yang membuat tenang dan nyaman, bukan sebaliknya. []

Lebih baru Lebih lama