Oleh: Siti Hajar
Kalau dipikir-pikir, rumah tangga zaman sekarang memang menghadapi tantangan yang tidak sedikit. Masalah ekonomi menjadi salah satu pemicu yang paling sering muncul. Cicilan yang menumpuk, kebutuhan hidup yang terus naik, kebiasaan belanja impulsif lewat pay later, pinjaman online yang membesar, hingga kecanduan game online atau judi online yang menguras uang keluarga sering menjadi awal keretakan hubungan. Belum lagi tekanan pekerjaan yang membuat seseorang pulang ke rumah dengan kepala penuh beban.
Di sisi lain, ada pula rumah
tangga yang goyah karena campur tangan orang sekitar. Komentar mertua yang
terlalu jauh masuk ke urusan pasangan, keluarga yang suka
membanding-bandingkan, teman yang toksik, atau lingkungan yang gemar mengompori
konflik ikut memperkeruh keadaan. Ada juga yang diuji oleh perselingkuhan,
kebohongan, hilangnya kepercayaan, dan rasa kecewa yang terus menumpuk dari
waktu ke waktu.
Semua itu nyata. Semua itu
berat.
Namun semakin sering saya
mendengar cerita orang-orang tentang rumah tangga mereka, saya menyadari satu
hal yang menarik. Banyak hubungan ternyata tidak langsung hancur karena masalah
besarnya. Yang perlahan merusak justru cara pasangan menghadapi masalah itu
saat berbicara.
Masalah ekonomi sebenarnya
masih bisa dicari jalan keluarnya bersama. Hutang bisa dicicil. Penghasilan
bisa diperjuangkan. Campur tangan keluarga masih bisa dibatasi dengan
komunikasi yang baik. Bahkan beberapa pasangan mampu bangkit setelah
pengkhianatan yang sangat menyakitkan. Tetapi ketika emosi tidak terkontrol
saat berbicara, masalah yang awalnya bisa diselesaikan perlahan berubah menjadi
pertengkaran yang melukai.
Saya beberapa kali menjadi
tempat orang bercerita. Ada yang datang dengan wajah lelah, ada yang mencoba
tertawa sambil menahan kecewa, ada pula yang berkata bahwa mereka sebenarnya
sudah tidak tahu lagi bagaimana cara berbicara baik-baik dengan pasangan sendiri.
Dan dari cerita-cerita itu,
saya menemukan pola yang hampir sama.
Pertengkaran sering kali
dimulai bukan dari masalah utamanya, melainkan dari nada bicara. Dari komentar
kecil yang terasa merendahkan. Dari kalimat spontan saat emosi sedang tinggi.
Dari kebiasaan menyela ketika pasangan belum selesai bicara. Dari kata-kata
yang sebenarnya diucapkan karena lelah, tetapi terdengar seperti serangan.
Kadang seseorang hanya ingin
didengar, tetapi lawan bicaranya merasa disalahkan. Kadang seseorang berniat
mengingatkan, tetapi caranya membuat pasangan merasa direndahkan. Dan ketika
dua orang sama-sama sedang emosional, percakapan berubah menjadi arena saling
melukai.
Saya jadi memahami bahwa dalam
rumah tangga, cara berbicara ternyata bisa lebih menentukan daripada masalah
itu sendiri.
Ada pasangan yang ekonominya
pas-pasan tetapi tetap hangat karena tahu bagaimana berbicara satu sama lain.
Sebaliknya, ada yang hidup cukup tetapi rumahnya penuh ketegangan karena setiap
pembicaraan berubah menjadi pertengkaran. Ada pasangan yang sebenarnya saling
sayang, tetapi sama-sama tidak tahu bagaimana menyampaikan kecewa tanpa
melukai.
Yang lebih menyedihkan, banyak
orang baru sadar pentingnya menjaga ucapan setelah hubungan mulai retak.
Padahal kata-kata yang keluar
saat marah sering meninggalkan luka yang jauh lebih lama dibanding masalahnya
sendiri. Nada tinggi mungkin hanya berlangsung beberapa menit, tetapi bekasnya
bisa tinggal bertahun-tahun dalam ingatan pasangan.
Saya tidak mengatakan bahwa
satu pihak adalah penyebab semua masalah. Rumah tangga tidak sesederhana itu.
Kekerasan tetap salah. Perselingkuhan tetap menyakitkan. Pengabaian tetap
melukai. Namun saya percaya, kemampuan mengelola emosi saat berbicara adalah
salah satu pondasi penting agar konflik tidak berubah menjadi kehancuran.
Karena pada akhirnya, banyak
rumah tangga tidak runtuh dalam satu malam. Ia retak sedikit demi sedikit. Dari
percakapan yang tidak lagi hangat. Dari nada yang semakin kasar. Dari kebiasaan
menyerang ketika marah. Dari dua orang yang sama-sama lelah, tetapi tidak lagi
tahu bagaimana berbicara dengan tenang.
Mungkin itu sebabnya, menjaga cara berbicara sebenarnya bukan hal kecil dalam pernikahan. Sebab rumah yang nyaman tidak hanya dibangun oleh cinta, tetapi juga oleh kata-kata yang dijaga. []
