Oleh: Siti Hajar
Setahun yang
lalu, aku kembali duduk di bangku kuliah. Sebuah keputusan yang bagi sebagian
orang mungkin terasa tidak biasa. Di usia 45 tahun, ketika sebagian teman
sebaya mulai berbicara tentang masa pensiun, kestabilan karier, atau menikmati
hidup yang lebih santai, aku justru memilih kembali menjadi mahasiswa. Aku
kembali membawa buku catatan, mengerjakan tugas, membaca jurnal, dan sesekali
harus berjibaku dengan teori-teori yang membuat kepala terasa penuh.
Beberapa orang
bertanya mengapa aku masih ingin kuliah lagi. Bukankah aku sudah pernah
menyelesaikan pendidikan tinggi? Bukankah pekerjaan dan kehidupan sehari-hari
sudah cukup menyita waktu? Mengapa harus psikologi?
Pertanyaan itu
sebenarnya cukup sulit dijawab dengan singkat. Karena kalau ditarik ke
belakang, semua ini berawal dari rasa penasaran yang sederhana. Aku mulai
tertarik pada hipnoterapi. Awalnya aku mengira hipnoterapi hanyalah sebuah
teknik untuk membantu seseorang mengubah kebiasaan atau mengatasi masalah
tertentu. Namun semakin banyak membaca, semakin aku sadar bahwa di balik sebuah
teknik ternyata ada dunia yang jauh lebih luas. Ada cerita tentang pikiran,
emosi, pengalaman masa kecil, hubungan keluarga, trauma, kepribadian, dan
begitu banyak hal lain yang saling terhubung satu sama lain.
Saat itu aku
merasa sudah memahami cukup banyak. Setidaknya begitulah yang kupikirkan.
Tetapi psikologi
ternyata memiliki cara yang unik untuk membuat seseorang tetap rendah hati.
Semakin aku belajar, semakin aku menyadari betapa dangkalnya pemahamanku selama
ini. Apa yang dulu terasa sebagai jawaban, perlahan berubah menjadi pertanyaan
baru. Apa yang dulu terlihat sederhana, ternyata memiliki lapisan-lapisan yang
tidak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku mulai
membaca tentang psikologi positif, lalu menemukan bahwa kebahagiaan ternyata
tidak sesederhana merasa senang. Aku membaca tentang trauma, lalu menyadari
bahwa manusia sering kali membawa pengalaman masa lalunya jauh lebih lama
daripada yang disadarinya. Aku membaca tentang boundaries atau batasan diri,
lalu mulai memahami mengapa banyak orang merasa lelah bukan karena terlalu
banyak bekerja, tetapi karena terlalu sering mengabaikan dirinya sendiri demi
memenuhi harapan orang lain.
Lalu aku membaca
tentang family constellation.
Di sinilah aku
mulai mengalami sesuatu yang berbeda.
Ada
bagian-bagian dalam buku yang membuatku berhenti sejenak. Bukan karena sulit
dipahami, tetapi karena terasa terlalu dekat. Ada kisah-kisah yang
mengingatkanku pada pengalaman hidup sendiri. Ada pola-pola tertentu yang
membuatku bertanya-tanya, apakah selama ini aku juga sedang menjalani sesuatu
yang serupa tanpa pernah menyadarinya.
Aku mulai
memikirkan kembali banyak hal yang selama ini hanya kusimpan sebagai bagian
dari perjalanan hidup. Tentang hubungan dalam keluarga. Tentang cara seseorang
memandang dirinya sendiri. Tentang ketakutan-ketakutan yang kadang muncul tanpa
alasan yang jelas. Tentang kebingungan yang sesekali datang dan sulit
dijelaskan. Tentang perasaan-perasaan yang selama ini hanya dianggap sebagai
bagian dari kepribadian, padahal mungkin memiliki akar yang lebih dalam.
Ada kalanya
proses itu terasa menyenangkan karena aku menemukan penjelasan atas sesuatu
yang selama ini membingungkan. Namun ada juga saat-saat ketika proses itu
terasa tidak nyaman. Sebab semakin banyak belajar tentang manusia, semakin aku
menyadari bahwa aku tidak sedang membaca tentang orang lain semata. Aku juga
sedang membaca diriku sendiri.
Aku mulai
memahami mengapa sebagian orang mengatakan bahwa belajar psikologi bisa menjadi
perjalanan yang sangat personal. Pada awalnya aku tidak begitu mengerti
maksudnya. Sekarang aku mulai memahaminya. Karena ternyata setiap teori yang
dipelajari tidak hanya mengajak kita memahami perilaku manusia secara umum,
tetapi juga membuka kesempatan untuk melihat kehidupan kita sendiri dari sudut
pandang yang berbeda.
Mungkin karena
itulah beberapa waktu lalu aku mengatakan kepada dosen di kelas bahwa kembali
kuliah di usia 45 tahun adalah sebuah keberuntungan.
Aku sungguh
merasakannya.
Andai aku
belajar psikologi ketika berusia dua puluh tahun, mungkin aku akan menjadi
mahasiswa yang lebih cepat memahami teori. Namun aku belum tentu memiliki
pengalaman hidup yang cukup untuk merasakan kedalaman maknanya. Hari ini aku
datang ke ruang kuliah sebagai seorang ibu, seorang istri, seorang pegawai,
seorang penulis, dan seseorang yang sudah melewati berbagai fase kehidupan.
Semua pengalaman itu tanpa kusadari ikut duduk bersamaku di dalam kelas.
Ketika dosen
menjelaskan tentang perkembangan manusia, aku tidak hanya membayangkan teori.
Aku teringat pada anak-anak yang pernah kutemui, siswa-siswa yang pernah
kubimbing, serta perjalanan membesarkan anakku sendiri. Ketika membahas tentang
hubungan interpersonal, aku tidak hanya melihat definisi dalam buku, tetapi
juga wajah-wajah orang yang pernah hadir dalam hidupku. Ketika membahas tentang
emosi, aku teringat pada berbagai peristiwa yang pernah membentukku menjadi
diriku hari ini.
Barangkali
inilah yang membuat proses belajar kali ini terasa berbeda dari semua
pendidikan yang pernah kutempuh sebelumnya.
Aku tidak sedang
belajar untuk mendapatkan gelar semata.
Aku tidak sedang
belajar untuk mengejar jabatan.
Aku belajar
karena rasa ingin tahu yang semakin besar setiap harinya.
Semakin banyak
yang kupelajari, semakin aku menyadari bahwa manusia adalah makhluk yang luar
biasa kompleks. Tidak ada satu teori yang mampu menjelaskan semuanya. Tidak ada
satu pendekatan yang bisa menjawab seluruh pertanyaan. Dan mungkin memang tidak
harus demikian.
Karena sekarang
aku mulai percaya bahwa belajar psikologi bukanlah tentang mencapai titik di
mana kita merasa sudah memahami manusia sepenuhnya. Justru sebaliknya. Belajar
psikologi mengajarkan kita untuk menerima bahwa manusia selalu memiliki
kedalaman yang tidak habis-habis untuk dipelajari.
Setelah setahun
menjalani perjalanan ini, aku belum merasa menjadi orang yang lebih pintar.
Yang kurasakan justru aku menjadi orang yang lebih banyak bertanya. Namun
anehnya, aku tidak lagi menganggap itu sebagai kekurangan.
Aku menikmati
rasa penasaran itu.
Aku menikmati
proses menemukan sesuatu yang baru.
Aku menikmati
kesempatan untuk melihat kehidupan dengan cara yang berbeda.
Dan mungkin,
jika ada satu hal yang paling berharga dari setahun belajar psikologi ini,
bukanlah teori-teori yang berhasil kuhafal atau nilai yang berhasil kudapatkan.
Melainkan keberanian untuk melihat diri sendiri dengan lebih jujur, memahami
bahwa setiap manusia membawa cerita yang tidak selalu tampak di permukaan, dan
menyadari bahwa proses bertumbuh tidak pernah mengenal batas usia.
Kini aku semakin
yakin bahwa Allah memang mempertemukan setiap orang dengan sesuatu pada waktu
yang tepat. Psikologi mungkin sudah ada sejak lama. Buku-bukunya sudah lama
terbit. Ilmunya sudah lama berkembang. Namun aku baru benar-benar bertemu
dengannya sekarang, ketika aku memiliki cukup pengalaman hidup untuk
mendengarkan apa yang ingin diajarkannya.
Dan aku merasa
perjalanan ini baru saja dimulai.
Dan di
penghujung refleksi ini, aku ingin menutupnya dengan sebuah percakapan yang
sering terjadi di dalam hatiku.
Allah, terima
kasih atas kesempatan ini.
Terima kasih
karena di usia yang sudah tidak muda lagi, Engkau masih memberiku kesempatan
untuk belajar. Terima kasih karena Engkau kembali membuat otakku bekerja,
kembali membuatku bertanya, berpikir, membaca, dan menemukan begitu banyak hal
baru yang selama ini belum kupahami.
Alhamdulillah ya
Allah.
Aku bersyukur
atas setiap lembar buku yang kubaca, setiap kelas yang kuikuti, setiap dosen
yang mengajariku, dan setiap pertanyaan yang Engkau tumbuhkan di dalam diriku.
Bahkan untuk kebingungan-kebingungan yang muncul di sepanjang perjalanan ini
pun aku bersyukur, karena dari sanalah aku belajar bahwa ilmu tidak selalu
dimulai dari jawaban, tetapi sering kali dari keberanian untuk bertanya.
Ya Allah,
jagalah lisanku dan jagalah hatiku agar tetap rendah hati.
Aku hanyalah
seorang pembelajar yang sedang menempuh perjalanan panjang. Mungkin suatu hari
nanti aku mengetahui lebih banyak daripada hari ini. Mungkin aku memahami
sesuatu yang dulu tidak kupahami. Namun aku juga tahu bahwa ilmu dapat menjadi
ujian. Ia dapat membuat seseorang lupa bahwa di atas setiap orang yang berilmu
masih ada Yang Maha Mengetahui.
Karena itu,
jauhkanlah aku dari kesombongan yang halus, dari perasaan merasa lebih tahu,
lebih paham, atau lebih baik daripada orang lain hanya karena sedikit ilmu yang
kumiliki. Jangan biarkan ilmu menjauhkan diriku dari kerendahan hati.
Jadikanlah ia jalan untuk semakin mengenal diriku, mengenal sesama manusia, dan
semakin mengenal kebesaran-Mu.
Teruslah
membimbingku, ya Allah. Tunjukkan jalan yang terbaik bagiku. Mudahkan setiap
langkah yang harus kutempuh. Lapangkan pikiranku ketika belajar terasa sulit.
Kuatkan hatiku ketika perjalanan terasa panjang. Dan jika memang psikologi
adalah jalan yang Engkau pilihkan untukku, tuntunlah aku hingga akhir
perjalanan itu.
Aku tidak
meminta menjadi yang paling pintar. Aku tidak meminta menjadi yang paling
hebat.
Aku hanya
berharap suatu hari nanti aku memiliki ilmu yang cukup untuk membantu diriku
sendiri menjadi manusia yang lebih baik, membantu keluargaku hidup lebih
bijaksana, dan membantu orang-orang di sekitarku menemukan harapan ketika
mereka membutuhkannya.
Aamiin ya Rabbal
'Alamin. []
