Mengapa Kita Ingin Diakui? Sebuah Penjelajahan Psikologi tentang Pencarian Jati Diri di Tengah Dunia yang Haus Validasi

 

Oleh: Siti Hajar

"Aku hanya ingin dihargai."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan kebutuhan yang hampir dimiliki oleh setiap manusia. Mungkin kita pernah mengucapkannya secara langsung. Mungkin juga hanya menyimpannya rapat-rapat di dalam hati.

Seorang anak menunjukkan gambar hasil coretannya kepada ibunya sambil menunggu pujian. Seorang mahasiswa merasa kecewa ketika kerja kerasnya tidak diapresiasi dosen. Seorang pegawai mulai kehilangan semangat karena bertahun-tahun bekerja tanpa pernah mendapatkan pengakuan. Bahkan di media sosial, jutaan orang tanpa sadar menunggu jumlah "like", komentar, atau tanda suka sebagai penanda bahwa keberadaan mereka diperhatikan.

Mengapa semua itu terjadi?

Apakah manusia memang diciptakan untuk membutuhkan pengakuan?

Ataukah sebenarnya kita sedang mengalami krisis jati diri?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut telah lama menjadi perhatian para psikolog. Menariknya, jawaban mereka menunjukkan bahwa kebutuhan untuk dihargai bukanlah kelemahan, melainkan bagian alami dari perkembangan manusia.

Kita Tidak Dilahirkan dengan Mengenal Diri Sendiri

Tidak ada bayi yang lahir sambil mengetahui bahwa dirinya berharga.

Seorang bayi baru mengetahui bahwa ia dicintai ketika dipeluk. Ia belajar bahwa dirinya aman ketika tangisnya direspons. Ia mulai memahami bahwa dirinya penting ketika keberadaannya disambut dengan senyuman.

Artinya, konsep diri tidak muncul begitu saja dari dalam diri. Ia dibentuk sedikit demi sedikit melalui hubungan dengan orang-orang di sekitar.

Dalam psikologi perkembangan, pengalaman-pengalaman awal inilah yang menjadi fondasi bagi cara seseorang memandang dirinya sepanjang hidup. Anak yang tumbuh dalam lingkungan yang hangat cenderung mengembangkan keyakinan bahwa dirinya layak dicintai. Sebaliknya, anak yang sering diabaikan, diremehkan, atau hanya dihargai ketika berprestasi dapat tumbuh dengan keyakinan bahwa nilai dirinya selalu bergantung pada penilaian orang lain.

Karena itulah, pencarian jati diri sering kali bukan dimulai ketika seseorang berusia dua puluh tahun, melainkan sejak tahun-tahun pertama kehidupannya.

Abraham Maslow: Manusia Membutuhkan Penghargaan Sebelum Mengaktualisasikan Diri

Psikolog humanistik Abraham Maslow memperkenalkan teori Hierarki Kebutuhan yang hingga kini masih menjadi salah satu teori motivasi paling berpengaruh.

Maslow menjelaskan bahwa setelah kebutuhan dasar seperti makan, rasa aman, dan kasih sayang terpenuhi, manusia mulai mencari sesuatu yang lebih dalam, yaitu penghargaan (esteem needs).

Penghargaan tersebut memiliki dua sumber.

Yang pertama berasal dari dalam diri sendiri, berupa rasa percaya diri, keyakinan akan kemampuan, serta penghargaan terhadap usaha yang telah dilakukan.

Yang kedua berasal dari lingkungan, seperti pujian, penghormatan, kepercayaan, penghargaan atas prestasi, atau sekadar ucapan terima kasih yang tulus.

Maslow melihat kedua bentuk penghargaan ini saling melengkapi. Pengakuan dari luar membantu membangun rasa percaya diri, tetapi tujuan akhirnya bukan agar seseorang terus-menerus bergantung pada pujian. Justru, manusia yang matang secara psikologis mampu menghargai dirinya bahkan ketika tepuk tangan telah berhenti.

Inilah yang sering terlupakan pada era media sosial. Banyak orang mengejar validasi eksternal tanpa sempat membangun validasi internal. Ketika pujian datang, mereka merasa sangat berharga. Namun ketika pujian menghilang, harga dirinya ikut runtuh.

Carl Rogers: Dicintai Karena Menjadi Diri Sendiri

Jika Maslow berbicara tentang kebutuhan akan penghargaan, Carl Rogers berbicara tentang kebutuhan yang bahkan lebih mendasar, yaitu diterima apa adanya.

Rogers memperkenalkan konsep unconditional positive regard, yaitu penerimaan tanpa syarat.

Bayangkan dua anak.

Anak pertama mendengar kalimat, "Ayah bangga kepadamu karena kamu juara kelas."

Anak kedua mendengar kalimat, "Ayah tetap menyayangimu. Nilai memang penting, tetapi kamu lebih penting daripada nilaimu."

Sekilas terdengar mirip, tetapi dampaknya sangat berbeda.

Anak pertama belajar bahwa kasih sayang harus diperoleh melalui prestasi. Anak kedua belajar bahwa dirinya berharga sebagai manusia, bukan semata-mata karena pencapaiannya.

Ketika dewasa, perbedaan pengalaman itu dapat memengaruhi cara seseorang memandang dirinya. Mereka yang sejak kecil hanya dihargai ketika berhasil cenderung lebih mudah mengalami kecemasan, perfeksionisme, dan ketakutan gagal. Sebaliknya, mereka yang diterima tanpa syarat biasanya memiliki konsep diri yang lebih stabil.

Alfred Adler: Semua Orang Ingin Merasa Berarti

Psikolog Austria Alfred Adler memiliki cara pandang yang unik.

Menurutnya, setiap manusia lahir dengan rasa kecil dan tidak berdaya. Perasaan inferior ini bukanlah sesuatu yang buruk. Justru dari sanalah muncul dorongan untuk berkembang.

Masalah muncul ketika seseorang terus-menerus merasa dirinya tidak pernah cukup baik.

Tidak pernah cukup pintar.

Tidak pernah cukup cantik.

Tidak pernah cukup berhasil.

Tidak pernah cukup penting.

Adler menyebut kondisi ini sebagai inferiority complex atau kompleks inferioritas.

Yang menarik, kompleks inferioritas tidak selalu tampak sebagai sikap pemalu. Kadang justru tampil dalam bentuk yang berlawanan. Ada orang yang selalu ingin menjadi pusat perhatian, sulit menerima kritik, gemar memamerkan pencapaian, atau terus mencari pengakuan. Dalam banyak kasus, perilaku tersebut bukan berasal dari rasa percaya diri yang kuat, melainkan dari usaha menutupi luka yang belum selesai.

Psikologi Perkembangan Menjelaskan Mengapa Luka Itu Bertahan Lama

Erik Erikson menjelaskan bahwa setiap tahap kehidupan memiliki tugas perkembangan yang harus diselesaikan.

Pada masa sekolah, anak belajar merasa kompeten. Ketika usahanya dihargai, ia berkembang menjadi pribadi yang percaya diri. Ketika usahanya terus diremehkan, ia mulai percaya bahwa dirinya memang tidak mampu.

Memasuki masa remaja, tantangannya berubah menjadi pencarian identitas.

Di sinilah banyak orang mulai bertanya, "Siapa sebenarnya aku?"

Pertanyaan ini sering kali semakin kuat ketika seseorang merasa tidak pernah benar-benar diterima oleh lingkungan sekitarnya.

Tidak mengherankan apabila sebagian remaja rela mengubah penampilan, cara berbicara, bahkan nilai-nilai hidupnya hanya agar diterima oleh kelompok tertentu. Bukan karena mereka tidak memiliki prinsip, tetapi karena identitas mereka masih dalam proses pembentukan.

Ketika Pengakuan Tidak Pernah Datang

Tidak semua orang tumbuh dalam lingkungan yang penuh apresiasi.

Ada anak yang lebih sering mendengar kritik daripada pujian.

Ada pegawai yang bertahun-tahun bekerja tanpa pernah mendapatkan ucapan terima kasih.

Ada pasangan yang merasa keberadaannya dianggap biasa.

Ada pula seseorang yang telah memberikan begitu banyak hal bagi orang lain, tetapi tidak pernah merasa benar-benar dilihat.

Apabila kondisi ini berlangsung lama, psikologi menunjukkan adanya peningkatan risiko munculnya harga diri rendah, keraguan terhadap kemampuan diri, kecemasan sosial, ketergantungan pada validasi eksternal, hingga perasaan tidak berdaya (learned helplessness). Individu mulai berpikir bahwa apa pun yang ia lakukan tidak akan pernah cukup untuk membuat dirinya dihargai.

Namun, penting dipahami bahwa pengalaman seperti ini bukanlah vonis seumur hidup. Otak manusia memiliki kemampuan beradaptasi, sementara konsep diri dapat berubah melalui pengalaman baru, hubungan yang lebih sehat, refleksi, dan proses pertumbuhan psikologis. Luka masa lalu dapat memengaruhi seseorang, tetapi tidak harus menentukan seluruh masa depannya.

Mungkin Kita Tidak Sedang Mencari Pujian

Barangkali selama ini kita mengira bahwa kita sedang mengejar pujian.

Padahal yang sebenarnya kita cari adalah kepastian bahwa keberadaan kita memiliki arti.

Bahwa usaha kita tidak sia-sia.

Bahwa ada seseorang yang melihat perjuangan kita.

Bahwa hidup kita memberi manfaat bagi orang lain.

Pada titik inilah pencarian jati diri mulai menemukan arah. Jati diri bukan dibangun semata-mata dari seberapa sering dunia bertepuk tangan kepada kita, melainkan dari kemampuan mengenali nilai diri, menerima kekurangan, mengembangkan potensi, dan tetap melangkah meskipun tidak selalu mendapat pengakuan.

Maslow menyebut keadaan ini sebagai perjalanan menuju aktualisasi diri. Rogers melihatnya sebagai hasil dari penerimaan yang tulus terhadap diri sendiri. Adler memandangnya sebagai keberhasilan mengubah rasa inferior menjadi dorongan untuk bertumbuh. Erikson menempatkannya sebagai buah dari penyelesaian tugas-tugas perkembangan secara sehat.

Meskipun menggunakan istilah yang berbeda, keempat tokoh tersebut seolah sedang menyampaikan pesan yang sama: manusia memang membutuhkan penghargaan, tetapi tujuan akhirnya bukan agar terus dipuji. Tujuan akhirnya adalah menjadi pribadi yang mengenal dirinya, menerima dirinya, dan menggunakan seluruh potensinya untuk memberi makna bagi kehidupan.

Di era ketika nilai seseorang sering diukur dari jumlah pengikut, penghargaan, jabatan, atau popularitas, mudah sekali kita percaya bahwa diri kita hanya berharga ketika diakui orang lain. Padahal, psikologi menunjukkan sesuatu yang lebih mendalam. Pengakuan memang penting, terutama pada masa-masa awal perkembangan. Namun kedewasaan emosional ditandai oleh kemampuan untuk tetap menghargai diri sendiri ketika tepuk tangan mereda.

Mungkin itulah mengapa sebagian orang tampak tenang meskipun jarang dipuji. Mereka tidak lagi hidup untuk membuktikan bahwa dirinya layak. Mereka sudah mengetahui bahwa nilai seorang manusia tidak pernah ditentukan oleh seberapa keras dunia bertepuk tangan, melainkan oleh seberapa dalam ia mengenal dirinya dan seberapa besar manfaat yang ia berikan kepada sesama.

Dan mungkin, perjalanan menemukan jati diri bukanlah tentang menjadi seseorang yang paling dikagumi. Melainkan menjadi seseorang yang tidak lagi kehilangan dirinya hanya karena dunia sedang tidak melihatnya. []

Lebih baru Lebih lama