Belajar Menjadi Observer: Keterampilan Penting bagi Mahasiswa S1 Psikologi


Oleh: Siti Hajar

Menjadi mahasiswa S1 Psikologi berarti berada dalam sebuah proses belajar yang panjang. Mahasiswa belum menjadi psikolog, tetapi sedang membangun berbagai kemampuan yang nantinya dibutuhkan dalam dunia psikologi. Salah satu kemampuan penting yang perlu dilatih adalah kemampuan melakukan observasi. Sekilas, observasi terlihat sederhana karena hanya membutuhkan kegiatan melihat dan mencatat. Namun, dalam psikologi, observasi membutuhkan ketelitian, tujuan yang jelas, dan cara berpikir yang sistematis.

Mahasiswa S1 sering diposisikan sebagai peneliti pemula. Sebutan ini bukan berarti penelitian yang dilakukan mahasiswa tidak penting. Justru melalui proses inilah mahasiswa mulai belajar bagaimana memperoleh informasi tentang manusia dengan cara yang ilmiah dan dapat dipertanggungjawabkan. Mahasiswa belajar menentukan masalah, merumuskan tujuan, memilih metode, mengumpulkan data, mencatat hasil pengamatan, dan menghubungkannya dengan teori. Observasi menjadi salah satu keterampilan dasar yang membantu mahasiswa menjalani proses tersebut.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sudah sering melihat perilaku orang lain. Kita melihat seseorang tersenyum, menangis, berbicara keras, menyendiri, atau tampak gelisah. Namun, melihat tidak selalu berarti melakukan observasi. Observasi ilmiah memiliki tujuan dan fokus tertentu. Seorang observer mengetahui apa yang ingin diamati dan perilaku apa yang relevan dengan tujuan tersebut. Karena itu, sebelum melakukan observasi, mahasiswa perlu menentukan terlebih dahulu pertanyaan atau fokus yang ingin dijawab melalui pengamatan.

Misalnya, mahasiswa ingin mengamati pola interaksi mahasiswa dalam sebuah kelompok diskusi. Ia tidak perlu mencatat seluruh kejadian yang berlangsung. Mahasiswa dapat memusatkan perhatian pada siapa yang memulai percakapan, bagaimana anggota kelompok memberikan respons, bagaimana pendapat disampaikan, bagaimana keputusan dibuat, serta bagaimana anggota menghadapi perbedaan pendapat. Dengan fokus seperti ini, pengamatan menjadi lebih terarah dan data yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

Langkah berikutnya adalah menentukan perilaku yang dapat diamati. Dalam psikologi, banyak konsep yang bersifat abstrak dan tidak dapat dilihat secara langsung. Misalnya kecemasan, motivasi, harga diri, stres, atau kepercayaan diri. Mahasiswa perlu berhati-hati dalam menerjemahkan konsep tersebut menjadi perilaku yang dapat diamati. Misalnya, dalam konteks tertentu seseorang tampak sering menggenggam tangan, berbicara lebih cepat, meminta kepastian berulang kali, atau menghindari situasi tertentu. Perilaku tersebut dapat dicatat sebagai data, tetapi tidak boleh langsung dianggap sebagai bukti bahwa seseorang mengalami gangguan kecemasan.

Untuk membantu proses pengamatan, mahasiswa dapat menyusun pedoman observasi. Pedoman ini membantu observer tetap berada pada fokus yang telah ditentukan dan mengurangi kecenderungan mengamati berdasarkan kesan pribadi. Pedoman dapat berisi aspek yang ingin diamati, indikator perilaku, waktu pengamatan, situasi yang terjadi, serta catatan mengenai respons individu. Bentuknya dapat berupa daftar cek, skala sederhana, atau catatan naratif, tergantung pada tujuan observasi dan metode yang digunakan.

Kemampuan yang sangat penting bagi seorang observer adalah mencatat perilaku secara objektif. Mahasiswa perlu belajar membedakan antara apa yang benar-benar dilihat dengan apa yang dipikirkan mengenai perilaku tersebut. Misalnya, daripada menulis “subjek tidak mempunyai teman dan mengalami masalah sosial”, observer dapat menulis bahwa “selama kurang lebih 20 menit, subjek duduk sendiri dan tidak terlibat dalam percakapan kelompok”. Kalimat kedua lebih dekat dengan data observasi karena menggambarkan perilaku yang benar-benar terlihat tanpa memberikan kesimpulan yang belum memiliki dasar yang cukup.

Selain perilaku, konteks juga perlu diperhatikan. Perilaku manusia tidak muncul begitu saja. Ada situasi, orang lain, peristiwa, maupun kondisi tertentu yang dapat memengaruhi munculnya perilaku. Ketika seseorang tiba-tiba meninggalkan ruangan, misalnya, observer tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa orang tersebut sedang marah atau menghindari seseorang. Observer perlu melihat apa yang terjadi sebelumnya, siapa yang terlibat, percakapan apa yang berlangsung, bagaimana respons individu, dan apa yang terjadi setelahnya. Konteks membantu mahasiswa memahami bahwa perilaku manusia tidak dapat dilepaskan begitu saja dari situasi tempat perilaku tersebut muncul.

Dalam Psikologi Klinis, kemampuan observasi menjadi semakin penting karena mahasiswa mulai belajar memahami perilaku dan kondisi psikologis manusia secara lebih mendalam. Mahasiswa dapat belajar memperhatikan ekspresi emosi, pola komunikasi, respons terhadap situasi tertentu, perilaku sosial, cara seseorang menghadapi tekanan, serta perubahan perilaku selama proses interaksi. Namun, mahasiswa tetap perlu memahami batas antara melakukan observasi dan melakukan diagnosis.

Melihat seseorang sering menangis, menarik diri, sulit berkonsentrasi, atau tampak cemas tidak berarti mahasiswa dapat langsung mengatakan bahwa orang tersebut mengalami depresi, gangguan kecemasan, atau gangguan psikologis lainnya. Diagnosis membutuhkan proses asesmen yang komprehensif dan dilakukan oleh profesional yang memiliki kompetensi serta kewenangan. Diperlukan informasi yang lebih luas mengenai kondisi individu, termasuk konteks, riwayat, durasi dan intensitas gejala, serta dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari. Karena itu, hasil observasi mahasiswa sebaiknya dipahami sebagai salah satu sumber data, bukan sebagai dasar tunggal untuk memberikan diagnosis.

Hal ini bukan berarti mahasiswa tidak boleh belajar berpikir secara klinis. Justru melalui mata kuliah Psikologi Klinis, mahasiswa mulai belajar melihat perilaku dengan perspektif psikologis. Perbedaannya terletak pada cara menarik kesimpulan. Mahasiswa dapat mengatakan bahwa suatu perilaku menunjukkan adanya perubahan interaksi sosial yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Mahasiswa juga dapat mempertanyakan faktor apa yang mungkin berkaitan dengan munculnya perilaku tersebut, seperti lingkungan, tekanan, hubungan interpersonal, kelelahan, pengalaman sebelumnya, atau situasi tertentu. Namun, mahasiswa perlu menyadari bahwa semua itu masih berupa kemungkinan yang membutuhkan data lebih lanjut.

Menjadi observer juga mengajarkan mahasiswa untuk menahan penilaian. Ketika melihat seseorang marah, kita tidak perlu langsung menyebutnya memiliki temperamen buruk. Ketika melihat seseorang menangis, kita juga tidak perlu menganggapnya lemah. Orang yang diam belum tentu sedang sedih. Orang yang banyak bicara belum tentu percaya diri. Orang yang menghindari interaksi belum tentu tidak menyukai orang lain. Satu perilaku dapat memiliki banyak kemungkinan makna, sehingga mahasiswa perlu membangun rasa ingin tahu yang sehat dalam memahami manusia.

Daripada bertanya, “Ada apa dengan orang ini?”, mahasiswa dapat belajar bertanya, “Apa yang sedang terjadi sehingga perilaku ini muncul?” Perubahan cara bertanya tersebut terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan bagian penting dari cara berpikir seorang mahasiswa psikologi. Observer tidak bertugas mencari kesalahan seseorang. Observer berusaha memahami pola perilaku berdasarkan data dan konteks yang tersedia.

Kemampuan observasi juga dapat dilatih melalui situasi sederhana dalam kehidupan akademik. Mahasiswa dapat belajar mengamati dinamika kelompok belajar, interaksi mahasiswa di kelas, pola komunikasi dalam organisasi, perilaku anak ketika bermain, atau respons anggota kelompok ketika menghadapi tugas bersama. Namun, latihan tersebut tetap harus memperhatikan etika. Privasi, kerahasiaan, persetujuan, dan martabat individu harus tetap dijaga. Jika observasi dilakukan sebagai bagian dari tugas penelitian yang melibatkan manusia, mahasiswa perlu mengikuti ketentuan akademik dan etika penelitian yang berlaku serta arahan dosen.

Pada akhirnya, kemampuan observasi tidak berdiri sendiri. Observasi merupakan bagian dari proses mahasiswa belajar menjadi peneliti. Mahasiswa belajar merumuskan masalah, menentukan fokus, memilih metode, mengumpulkan data, mencatat hasil pengamatan, menganalisis data, dan menghubungkannya dengan teori. Proses tersebut melatih mahasiswa untuk tidak hanya merasa tahu, tetapi belajar mengetahui berdasarkan data. Inilah salah satu perbedaan penting antara pengetahuan sehari-hari dan pengetahuan ilmiah.

Menjadi mahasiswa S1 Psikologi sebenarnya merupakan proses belajar memahami manusia sekaligus belajar mengenali keterbatasan diri dalam memahami manusia. Semakin banyak belajar psikologi, seharusnya mahasiswa tidak semakin mudah memberikan label. Sebaliknya, mahasiswa justru belajar menjadi lebih hati-hati dalam menarik kesimpulan. Observasi mengajarkan bahwa perilaku manusia selalu memiliki konteks dan apa yang tampak di permukaan belum tentu menggambarkan keseluruhan kondisi seseorang.

Karena itu, sebelum belajar menjadi praktisi, mahasiswa perlu belajar menjadi observer yang baik. Belajar melihat dengan teliti, mencatat dengan objektif, bertanya tanpa menghakimi, dan menghubungkan temuan dengan teori secara bertanggung jawab. Tidak kalah penting, mahasiswa perlu belajar mengatakan “saya belum tahu” ketika data yang tersedia memang belum cukup. Dari proses sederhana inilah sikap ilmiah seorang mahasiswa Psikologi mulai tumbuh, bukan dari seberapa banyak istilah psikologi yang dapat disebutkan, tetapi dari kemampuan memahami manusia dengan rasa ingin tahu, kehati-hatian, dan tanggung jawab. []

Baca juga Artikel menarik lainnya. Semoga kamu mendapat insight positifnya.

Mengapa Saudara Kandung Bisa Memiliki Kepribadian yang Sangat Berbeda? Telaah Buku Family Constelation Karya Melanie Sutanto

Lebih baru Lebih lama